Senin, 20 Mei 2013

Tanda-tanda Karyawan Akan Mencuri Uang Perusahaan

Memiliki karyawan yang tidak pernah berlibur atau sering membawa pekerjaan ke rumah? Berhati-hatilah karena menurut penelitian terbaru, dua perilaku tersebut termasuk dalam beberapa tanda karyawan yang mungkin mencuri uang perusahaan.

Menurut perusahaan konsultan keamanan Marquet International, di Amerika Serikat, pencurian uang perusahaan oleh karyawan melonjak pada 2012, yaitu 528 kasus penggelapan uang dengan jumlah lebih besar dari AS$100.000. Jumlah tersebut lebih besar 11 persen dibanding tahun 2011 dan menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Rata-rata uang yang dicuri sekitar AS$1,4 juta, dengan dua per tiga pencuri merupakan karyawan yang bekerja di bagian keuangan, pembukuan, dan posisi akuntansi. Sebagian besar skema pencurian dengan cara mengeluarkan cek perusahaan palsu atau tidak sah.

Hampir 60 persen karyawan yang mencuri adalah perempuan. Namun, jika karyawan pria yang melakukan pencurian, maka rata-rata besarnya uang yang dicuri mencapai tiga kali lipat dari rata-rata uang yang dicuri karyawan wanita. Sebagian besar dari mereka mengaku mencuri dengan alasan berjudi.

Christopher T. Marquet, CEO dari Marquet International, menyatakan bahwa dirinya memperkirakan kembali terjadinya lonjakan angka pencurian uang perusahaan oleh karyawan pada beberapa tahun ke depan. Hal ini mengacu pada perekonomian Amerika Serikat yang diperkirakan akan tetap bermasalah.

Data-data dalam penelitian ini berasal dari sebuah analisis dari kasus-kasus individu pencurian uang oleh pegawai di Amerika Serikat dengan jumlah uang yang digelapkan minimal AS$100.000.

Bagaimana dengan Indonesia? Jadi teringat kasus dua pegawai pajak terbaru. (BusinessNewsDaily)

http://intisari-online.com/read/tanda-tanda-karyawan-akan-mencuri-uang-perusahaan

Kamis, 16 Mei 2013

Taman Vertikal, Solusi untuk Keterbatasan Lahan

Pembangunan gedung yang terus meningkat di wilayah perkotaan meninggalkan sedikit saja lahan yang tersisa. Kebutuhan ruang terbuka hijau pun semakin sulit dipenuhi. Namun, selama beberapa dekade terakhir di beberapa kota besar Eropa dan Amerika kita menemukan dinding-dinding yang subur. Tanaman tumbuh di dinding-dinding yang biasanya kosong.

Adalah Patrick Blanc, seorang ahli botani Prancis, yang kemudian mencoba menciptakan model dinding hijau tanpa tanah. Kebun vertikal yang digagasnya itu memiliki sistem irigasi otomatis sehingga kemudian banyak dijadikan sebagai contoh berbagai proyek taman vertikal publik maupun pribadi.

Seiring waktu, langkah inovatif Blanc tersebut juga diikuti di tempat lain. Perusahaan Inggris Biotecture mengembangkan kebun vertikal bergaya modular dengan penghematan air menggunakan serat wol, bukan laken.

Di Amerika Serikat, Green Living Technologies bahkan berhasil membuat dinding-dinding yang menghasilkan tanaman produktif. Layaknya lahan pertanian, dinding-dinding itu menghasilkan sayuran berdaun hijau dan tanaman-tanaman pertanian seperti wortel. (National Geographic)

http://intisari-online.com/read/taman-vertikal-solusi-untuk-keterbatasan-lahan

Rabu, 15 Mei 2013

Cara Cina Mengurai Kemacetan Kota

Sejak tahun 2007, jumlah mobil di Cina bertambah dua kali lipat. Akibatnya, kondisi lalu-lintas di kota-kota besar menjadi awut-awutan. Namun pemerintah daerah segera melakukan langkah antisipatif untuk mencegah kemacetan permanen.

Beijing, misalnya, memilih solusi radikal dengan mengundi 20.000 pelat nomer polisi setiap bulan, dengan total 900.000 pemohon. Akhirnya, beberapa warga Beijing ikut mendaftarkan anggota keluarganya untuk mendapatkan peluang. Sementara yang lain membeli mobil di kota tetangga.

Pemerintah Shanghai melelang pelat seharga AS$10.000. Di Changzhou, polisi Cina memeriksa pelat nomer palsu sebagai bagian dari upaya mengatasi menjamurnya kendaraan ilegal. Kota lainnya memilih menaikkan tarif parkir di pusat kota atau membangun jalur kereta bawah tanah. “Kemacetan seharusnya dapat dihindari,” ungkap Shao Chunfu dari Beijing Jiaotong University. “Namun mengingat tren pembangunan Cina, saya khawatir itu tidak bisa dihindari, bahkan di kota kecil”.

Untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, pemerintah Cina juga memberlakukan aturan ketat. Maklum, angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas di Cina mencapai 60.000 jiwa setiap tahunnya. Maka pemerintah mewajibkan pengemudi baru melewati tes yang sulit untuk memperoleh izin mengemudi. Mereka harus meraih nilai 90 persen atau lebih pada ujian yang berisi ratusan pertanyaan. Soal ujian seputar topik tentang hal yang harus dipertimbangkan saat di jalan, etiket, serta hukum perdata. (National Geographic)

http://intisari-online.com/read/cara-cina-mengurai-kemacetan-kota

Selasa, 14 Mei 2013

Etos Kerja Jepang di Mata Orang Indonesia

Sejak akhir Perang Dunia II, orang-orang Jepang distereotipkan di seluruh dunia sebagai “gila kerja”. Mereka mencurahkan seluruh perhatian pada pekerjaan dan perusahaan. Etos kerja masyarakat yang tinggi ini memacu kebangkitan ekonomi Negeri Sakura tersebut. Betapa tidak, Jepang yang luluh lantak karena kalah perang di akhir tahun 1940-an, menjelma bangkit menjadi negara maju. Pembangunan ekonomi yang melesat pada gilirannya memacu Jepang menjadi negara yang amat diperhitungkan dalam percaturan dunia internasional.

Salah satu etos kerja Jepang yang banyak disoroti bangsa lain adalah disiplin. Mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan. Hal ini tampak dari bagaimana cara mereka untuk selalu tepat waktu dalam bekerja.

Namun, bagaimanakah orang Indonesia menilai etos kerja orang Jepang tersebut?

Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia, mengatakan, tampaknya disiplin gaya Jepang dianggap terlalu kaku bagi sebagain besar masyarakat Indonesia. Hal ini disampaikan dia dalam acara “1st Indonesia-Jepang Bisnis Forum: Daily Life Revolution”, Rabu pekan silam, di Jakarta. Kondisi alam dan latar belakang budaya menentukan perbedaan etos kerja kedua bangsa Asia ini. Perhatian orang Indonesia terhadap keluarga membuat etos kerja orang Indonesia tak bisa disamakan dengan orang Jepang. Kekayaan alam Indonesia yang melimpah juga membuat orang Indonesia tak merasa tertantang untuk mengolahnya lebih lanjut, dan memberi nilai tambah atasnya. Penilaian ini tak lepas dari hasil pengamatan dan pengalaman Agung selama puluhan tahun berkiprah di industri media. “Karena cara menilai dan menghadapi hidup berbeda, orang Indonesia mempunyai definisi sendiri soal disiplin,” ungkap Agung.

Meski demikian, dari sisi Jepang, Indonesia tetaplah potensi pasar yang menjanjikan. Pertumbuhan kelas menengah Indonesia yang terus meningkat memberi peluang baru bagi investor Jepang untuk melebarkan sayap bisnisnya. Saat ini, Bank Dunia mencatat penduduk Indonesia mencapai 242,32 juta jiwa, dengan 56,5 persen (136) juta jiwa di antaranya adalah kelas menengah.

http://intisari-online.com/read/etos-kerja-jepang-di-mata-orang-indonesia

Bos Penghambat Karier Karyawan?

Kira-kira siapa yang disalahkan ketika Anda sebagai karyawan tidak bahagia? Ya, Anda bisa menebaknya, dia adalah atasan Anda.

Sebuah penelitian yang dilakukan Glassdoor mengungkapkan, 20 persen karyawan meyakini atasan mereka memberi dampak negatif terhadap perkembangan karier mereka. Hampir 40 persen karyawan mengatakan atasan mereka menolak dan menunda kenaikan gaji. Sementara 27 persen karyawan mengungkapkan, atasan mereka menghilangkan sistem keseimbangan antara kehidupan dengan pekerjaan mereka.

Memperkecil anggota tim, mencegah promosi, dan mendorong PHK adalah beberapa tindakan lain yang dilakukan atasan, yang merusak kemajuan karier karyawan.

Amanda LaChapelle, direktur sumber daya manusia Glassdoor, menawarkan beberapa saran bagi bos agar tindakan mereka berdampak positif pada perkembangan karier para staf. Saran tersebut meliputi:

Komunikasi antarpribadi di dalam rapat

Di dalam rapat, atasan dan karyawan semestinya berkomunikasi dua arah. Tentu hal ini membantu atasan mengetahui hal yang dibutuhkan karyawan untuk pertumbuhan karier mereka.

Tetapkan harapan yang jelas tentang tunjangan dan keuntungan perusahaan

Hal ini harus dilakukan setelah calon karyawan diwawancarai perekrut. Bila suatu saat ada perubahan mengenai tunjangan, hal ini harus dikomunikasikan terlebih dulu dengan karyawan disertai alasannya.

Menjelaskan lingkungan pekerjaan karyawan

Semua calon karyawan diberi penjelasan sehingga mereka memiliki gambaran yang jelas tentang lingkungan pekerjaan mereka. Sehingga ketika mulai kerja, mereka tidak kecewa dengan lingkungan pekerjaan.

Memotivasi karyawan

Atasan yang baik tidak akan malu berkomunikasi langsung dengan karyawan. Atasan harus sering bertanya dan membaca tentang ulasan karyawan perusahaan mereka. (businessnewsdaily)

http://intisari-online.com/read/bos-penghambat-karier-karyawan

Perempuan Lebih Baik dalam Ambil Keputusan

Sebuah penelitian baru menunjukkan, perusahaan yang berharap untuk membuat keputusan yang lebih baik harus mempekerjakan lebih banyak perempuan.

Penelitian dari McMaster University di Ontario mengungkapkan, kemampuan perempuan membuat keputusan yang adil menjadikan mereka pemimpin yang lebih baik. Secara khusus, penelitian ini menemukan bahwa perempuan lebih mungkin untuk mempertimbangkan hak-hak orang lain dan kooperatif dalam mengambil keputusan. Inilah yang kemudia dianggap sebagai kinerja yang baik untuk perusahaan mereka.

"Temuan kami menunjukkan bahwa memiliki perempuan sebagai pemimpin bukan hanya hal benar, tetapi juga hal yang cerdas untuk dilakukan," kata Chris Bart, seorang penulis dalam tim penelitian, juga seorang profesor manajemen strategis di McMaster University.

Penelitian, yang menyurvei lebih dari 600 direksi, mengungkapkan bahwa direksi laki-laki, yang terdiri atas 75 persen dari sampel survei, lebih memilih untuk membuat keputusan menggunakan kekuasaan, peraturan, dan cara-cara tradisional dalam menjalankan bisnis dan pergaulan. Sebagai perbandingan, direktur perempuan merasa tidak dibatasi oleh parameter itu dan mereka lebih siap memimpin perusahaan.

Penelitian ini juga menemukan bahwa pemimpin perempuan secara signifikan cenderung mengambil keputusan yang adil dan bermoral. Selain itu, perempuan cenderung sering kerjasama, berkolaborasi dan musyawarah dalam membuat keputusan yang tepat.

"Wanita tampaknya cenderung lebih ingin tahu dan melihat solusi yang lebih mungkin," kata Gregory McQueen, salah satu penulis dalam tim penelitian, dia lulusan McMaster. "Pada tingkat pemimpin, saat direktur dipaksa ambil keputusan terbaik dengan mengedepankan kepentingan semua pihak, perempuan yang lebih efektif menjadi direktur perusahaan." (businessnewsdaily)

http://intisari-online.com/read/perempuan-lebih-baik-dalam-ambil-keputusan

7 Tanda Keuangan yang Tidak Sehat

Menjaga keuangan agar tetap sehat sama halnya dengan menjaga kondisi tubuh agar tetap bugar. Salah satu cara untuk mengetahui sehat atau tidaknya kondisi tubuh adalah dengan mengenali gejala-gejala dari kondisi kesehatan tubuh yang buruk. Nah, hal yang sama juga perlu diterapkan ketika seseorang ingin mengenali kondisi keuangannya.

Itulah yang disampaikan Eko P. Pratomo dalam bukunya 50 Financial Wisdom. Menurut Eko, “Anda perlu tahu tanda-tanda adanya gejala kondisi keuangan Anda yang mulai tidak sehat atau mungkin malah sudah sakit.”

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui sehat atau tidaknya kondisi keuangan kita. Tentunya ada banyak sekali parameternya. Namun, menurut Eko ada tujuh gejala utama yang apabila muncul, kemungkinan besar kondisi keuangan keluarga kita tidak sehat.

1. Kita tidak dapat memenuhi kewajiban secara agama terkait dengan harta benda yang kita miliki (contohnya zakat untuk umat Islam dan perpuluhan bagi kaum Nasrani).

2. Kita kerap kesulitan atau bahkan sudah tidak bisa menabung secara rutin. Dalam kondisi ini, biasanya pengeluaran (tanpa tabungan) sama atau bahkan lebih besar dibandingkan dengan penghasilan.

3. Ketiadaannya dana darurat yang jumlah minimalnya sebesar tiga kali pengeluaran bulanan Anda. Dana cadangan adalah dana yang disiapkan untuk kondisi darurat dan, tentunya, hanya digunakan dalam kondisi darurat.

4. Jika memiliki kartu kredit, biasanya tidak mampu melunasinya setiap bulan sehingga harus mencicil, dengan bunga yang makin besar.

5. Jika memiliki utang, kita kerap mengalami kesulitan untuk melunasinya, bahkan dengan cara mencicil.

6. Memiliki saldo utang yang lebih besar dibandingkan dengan aset yang kita miliki.

7. Tidak adanya perencanaan dan persiapan finansial untuk masa depan, misalnya untuk pendidikan anak atau saat pensiun kelak.

Nah, teliti kembali apakah Anda termasuk di dalamnya?

http://intisari-online.com/read/7-tanda-keuangan-yang-tidak-sehat