Kamis, 25 Oktober 2012

Terpaksa Menggunakan Otak

Kadang kita selalu merasa bisa melakukan apa pun karena sudah ada pedomannya. Kita bisa membaca petunjuk dalam pedoman tersebut. Padahal, belum tentu kita bisa menerjemahkan apa maksud dari pedoman itu. Kalau kita bersabar dan mencoba memahaminya, sebenarnya cukup logika saja yang bekerja. Mungkin begitulah maksud kisah yang ditulis dalam The Prayer of The Frog berikut ini.

Dengan bantuan buku “Petunjuk Pemakaian” seorang wanita selama berjam-jam mencoba merakit alat rumah tangga yang rumit, yang baru saja ia beli. Akhirnya ia menyerah dan membiarkan bagian-bagian alat itu terserak di meja dapur.

Namun, ia terkejut ketika beberapa jam kemudian ia kembali dan menemukan alat itu sudah dirakit oleh pembantunya dan bekerja dengan sempurna.

“Bukan main, bagaimana engkau mengerjakannya?” tanyanya.

“Ah Ibu, kalau orang tidak dapat membaca,dia terpaksa menggunakan otaknya,” jawab si pembantu dengan tenang.

http://intisari-online.com/read/terpaksa-menggunakan-otak

Selasa, 23 Oktober 2012

Sinergi Memberi dan Menerima

Aristoteles dalam konsep zoon politicon mengungkapkan bahwa manusia senantiasa berinteraksi dan hidup bermasyarakat. Dalam lingkup masyarakat itu pula terjadi saling keterkaitan yakni menumbuhkan suatu ketergantungan yang saling membutuhkan satu sama lain.

Memahami lebih lanjut makna di atas, keberadaan dua danau di daerah Timur Tengah, Danau Galilea atau Tiberia dan Laut Mati dapat memberi kita pelajaran. Jarak keduanya tak begitu jauh, karena terdapat Sungai Yordan menjadi penghubung keduanya.

Danau Tiberia merupakan salah satu danau air tawar untuk tujuan wisata yang telah terkenal sejak dahulu. Danau yang memiliki ragam kehidupan melimpah, mulai dari flora dan binatang laut seperti plankton dan ikan tilapia. Sepanjang bibir danau pun tampak hijau dan merupakan sumber kehidupan bagi kehidupan lain. Kini puluhan hotel mewah telah berjejer di barisan pegunungan Golan tersebut.

Kondisi ini tampak berbeda 180° dengan Laut Mati. Layaknya nama yang dilekatkan pada danau ini, tiada biota air di danau ini. Bibir danau pun berupa bebatuan tanpa ada kehidupan pepohonan. Tak lain karena danau ini memiliki kandungan kadar garam yang sangat tinggi, bahkan berlipat melebihi kadar garam lautan. Kandungan garam tinggi ini karena memang dahulu terjadi retakan pada dasar lembah dan kemudian terisi oleh resapan air laut yang terjebak dan mengalami evaporasi terus-menerus.

Namun orang bijak mengatakan, perbedaan ini terletak pada aktivitas yang dilakukan oleh kedua danau tersebut. Danau Galilea menjadi muara bagi Sungan Yordan Atas, dan menjadi hulu bagi Sungai Yordan Bawah. Ia memberi dan menerima, tak hanya menampung namun juga mengalirkan. Lain halnya Laut Mati hanya menjadi muara bagi Sungai Yordan Bawah, ia hanya menerima tanpa memberi.

Danau Tiberias memberikan pelajaran sebagai danau yang memberi dan menerima air memberi kehidupan melimpah di sekitarnya, justru ia menjadi sumber kehidupan. Berbeda dengan Laut Mati yang hanya menerima, tanpa memberi ia tak menjadi sumber kehidupan bagi makhluk lain.

Demikian pula dalam kehidupan manusia, kodrat manusia sebagai zoon politicon membawanya pada interaksi dalam masyarakat melalui sinergi antara memberi dan menerima, keduanya haruslah seimbang sehingga menjadi sumber kehidupan bagi manusia di sekitarnya.

Sudahkah Anda bersinergi layaknya Danau Galilea?

http://intisari-online.com/read/sinergi-memberi-dan-menerima

Senin, 22 Oktober 2012

Meninjau Kembali Hidup Kita

Jika Anda berpikir bahwa tahun mendatang akan menjadi tahun terakhir Anda, perubahan apa yang akan Anda lakukan dalam hidup? Siapa yang akan Anda hubungkan dengan ini? Apakah Anda punya penyesalan? Ini adalah beberapa pertanyaan penulis Stephen Levine, yang mulai bertanya setelah bertahun-tahun mengajar meditasi dan teknik penyembuhan untuk pasien yang sakit parah.

Levine melakukan proyek penelitian sendirian. Ia menyebutnya “tahun untuk hidup”. Ia bertindak seolah-olah ia hidup hanya untuk satu tahun lagi. Ia mengkaji kembali peristiwa masa lalu yang telah berdampak pada hidupnya, baik dan buruk. Proses ini menginspirasi Levine untuk menunjukkan rasa terima kasihnya dan penghargaan kepada banyak orang yang telah menyentuh hidupnya dengan cara yang positif.

Langkah itu membantunya untuk lebih mengembangkan rasa penuh kasih dan welas asih di dunia. Ia menemukan kekuatan untuk memaafkan kesakitan dan kebencian di masa lalu. Pikiran sekarat Levine menemukan keberanian untuk berkomitmen penuh pada hidup –untuk mempercayai bahwa tidak ada yang bisa menyakitinya sekarang.

Bila Anda meminjam waktu untuk hidup, setiap menit akan diperhitungkan. Jika Anda bisa menciptakan makna yang lebih dalam hidup Anda, apa yang akan Anda lakukan? Lebih penting lagi, apa yang Anda tunggu?

http://intisari-online.com/read/meninjau-kembali-hidup-kita

Minggu, 21 Oktober 2012

Belajar ‘Mencari Nama’ dari Pram...

“Nama adalah bangunan atas hasil karyanya. Orang tak perlu mencari-carinya” - Pramoedya Ananta Toer

Banyak orang memimpikan agar diri mereka terkenal. Asa mereka agar setiap orang yang berpapasan dengannya di sudut jalan mengenal dan menyapa dirinya. Maka, sebagaian dari mereka berlomba-lomba untuk mencari nama agar dikenal. Terlebih bagi politisi atau public figure macam kini, mencari nama untuk popularitas adalah menu wajib.

Berbicara mengenai ‘mencari nama’ dan ingin menjadi terkenal, ada baiknya jika kita belajar dari guratan emosi sosok Pramoedya Ananta Toer lewat bukunya, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Buku ini awalnya hanya berupa catatan harian Pram ketika menjalani masa hukuman penjara tanpa pengadilan di Pulau Buru.

Lama tak berjumpa dengan istri dan anaknya hampir 7 tahun, Pram mengisahkan romantika ketika ia mendapatkan sepucuk surat dari putrinya, Titiek. Surat yang Pram sebut sebagai ‘sertifikat dari seorang anak untuk ayah’ tersebut tertulis pada tanggal 9 Februari 1972, menggunakan mesin ketik sebelas jari sebanyak 4 lembar kuwarto, Pram-lah yang mengajari anak keempatnya tersebut menulis saat duduk di bangku kelas 3 SD.

Titiek bercerita dalam surat itu, kala ia mendaftarkan ke sekolah-sekolah baru, ia selalu mendapatkan pertanyaan awal, “Ini apa anak Pramoedya Ananta Toer?” Si anak sungguh merasa beruntung memiliki seorang ayah yang ternama. Bahkan ketika ia menginjak sekolah menengah farmasi, baru masuk sekolah 4 hari saja semua kawan-kawan dan guru-gurunya di sekolah sudah mengenalnya dan akhirnya ia ditunjuk menjadi wakil ketua kelas.

Ia pun lantas berkata, “Titiek sangat bangga mempunyai ayah seperti Ayahanda, Ayahanda adalah orang yang ternama. Cita-cita Titiek ingin mencari nama seperti Ayahanda,” ujarnya dalam surat.

Dalam surat balasan yang tak pernah tersampaikan pada anaknya (karena situasi Pulau Buru yang tak memungkinkan), Pram bercerita tentang nama. Pram merendah diri dengan mengatakan bahwa ia merasa tak memiliki kualitas yang baik seperti ketajaman pikiran, kekukuhan pendirian dan arena kejujuran yang setara dengan sosok ayahnya atau mertua Pram (Hadji Abdillah Thamrin) yang dianggap tenar pada masanya.

Pram menegaskan bahwa ia tak pernah mencari nama. Karena anaknya menganggap Pram punya nama lantaran kejadian di sekolah, maka nama itu tak lain adalah pemberian masyarakat. Nama tak perlu dicari, karena ia merupakan hadiah dari masyarakat atas apa yang kita lakukan.

“Nama bukan dicari, dia hanya imbalan. Kalau kau memberikan hasil kerjamu pada seseorang dan orang itu suka, engkau pun akan mendapat nama dari dia. Nama adalah produk sosial. Juga dibutuhkan ausdauer (daya tahan) untuk mempertahankan dan mengembangkannya. Nama adalah bangunan atas hasil karyanya. Orang tak perlu mencari-carinya,” tegas Pram.

Sekiranya jelas apa yang diungkapkan Pram terkait ‘mencari nama’ melalui catatan hariannya. Nama adalah konstruksi masyarakat atas tindakan yang kita lakukan. Sehingga apa yang kita lakukan, baik itu buruk maupun baik, akan melekat pada nama tersebut. Tentu Pram mendapat nama karena ia seorang penulis yang produktif meski beberapa karyanya ditentang oleh berbagai pihak.

Kita bisa belajar dari Pram, tak perlulah kita mencari nama dengan mengumbar sensasi. Cukup berkarya dan produktif sesuai dengan talenta masing-masing dengan maksimal, karena dari sanalah kita mendapat imbalan nama dari masyarakat atas ungkapan hasil karya kita.

http://intisari-online.com/read/belajar-mencari-nama-dari-pram

Rabu, 17 Oktober 2012

Membuat Anak Senang Menabung

Bagi orangtua yang memiliki anak-anak, pengenalan terhadap menabung sudah seharusnya dilaksanakan sejak awal dan dimulai dari lingkungan rumah. Ketika anak-anak dilingkupi banyak hal yang baik, maka si anak akan tumbuh menjadi individu positif dan memiliki persepsi yang positif akan berbagai kesempatan yang akan ditemui di masyarakat.

Berapa langkah di bawah ini dapat membantu dalam mendidik anak-anak kita untuk mulai menabung.

Belikan celengan

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah membelikan anak-anak kita celengan. Selanjutnya, jangan biarkan celengan “bicara sendiri“ pada mereka, namun lakukan sosialisasi yang tiada henti mengenai manfaat menabung. Setiap mereka memiliki uang yang bisa disimpan, sarankan untuk segera dimasukkan ke dalam celengan.

Jangan lupa menetapkan tujuan menabung. Perlu pula ditetapkan batasan waktu kapan celengan itu akan dipecah untuk merealisasikan tujuan dari menabung. Bisa enam bulan atau satu tahun ke depan.

Karena anak-anak belum memiliki pendapatan, ada baiknya kita memberi ide yang akan mendatangkan uang. Misalnya, penghargaan atas prestasi tertentu atau memberikan uang jajan yang berhasil dihemat. Besarnya uang jajan yang ditabung diserahkan kepada masing-masing anak.

Membeli sesuatu dari hasil menabung

Berhasil membeli benda atau mainan yang sangat didambakan dari hasil menabung di celengan akan sangat memotivasi anak-anak kita untuk terus menabung. Penulis teringat masa kecil, saat dapat membeli sebuah sepeda dari hasil celengan selama satu tahun. Peristiwa itu membekas hingga saat ini, sehingga keinginan untuk menyisihkan sedikit pendapatan untuk ditabung tetap kuat. Kenangan ini yang akhirnya membuat penulis yakin, menabung dapat menghadirkan mimpi dan menjadikan kegiatan menabung sebagai kebiasaan yang terus berlangsung.

Membuka rekening

Setelah mengenal celengan sebagai alat bantu menabung, anak-anak perlu dikenalkan pada rekening tabungan. Dengan membuka rekening tabungan, anak-anak juga diperkenalkan pada transaksi perbankan. Menulis besar uang yang ditabung pada formulir yang disediakan bank dan menyetor uang akan membuat anak-anak tertarik untuk selalu menabung.

Saat ini banyak bank membuat tabungan anak-anak, selain bentuk buku tabungannya berwarna khas anak-anak, jenis tabungan ini juga tidak menarik biaya administrasi yang besar, bahkan tidak dikenakan sama sekali. Mungkin bank-bank di Indonesia perlu juga membuat counter khusus anak-anak, agar lebih banyak lagi anak-anak tertarik menabung.

Orangtua jadi teladan

Mengenalkan cara menabung dan kemudian menikmati hasil tabungan akan membuat anak-anak senang menabung. Namun, pendidikan akan lengkap tatkala orangtua menjadi panutan dalam menabung untuk menyelesaikan masalah keuangan keluarga. Jika anak dilahirkan dalam keluarga yang tidak mengenal langkah menabung, maka sulit baginya memahami perjuangan untuk menahan keinginan tertentu guna mencapai keinginan lain. Akan hadir anak-anak dengan pola pikir instant yang menghalalkan segala cara untuk menghadirkan impiannya. Untuk itu dibutuhkan teladan yang datangnya dari orangtua.(Intisari)

http://intisari-online.com/read/membuat-anak-senang-menabung

Selasa, 16 Oktober 2012

Pelajaran Dalam Diplomasi

Jika Anda harus berurusan dengan perilaku tidak bijaksana seseorang, Anda bisa menghargai potongan kisah dari komponis dan pianis besar, Franz Liszt berikut ini.

Musisi dan pemain musik ini pernah sekali dirinya bertentangan dengan anggota penting dari pendengarnya. Tsar Rusia, Nicholas I, masuk terlambat ke gedung saat konser Liszt berlangsung. Padahal, peraturan setiap konser musik biasanya sama, saat konser berlangsung tidak boleh ada yang keluar masuk ruangan atau tepuk tangan. Itu boleh dilakukan saat jeda. Setelah duduk pun, Tsar terus berbicara dengan anggota rombongannya.

Liszt menyadari bila Nicholas tidak punya niat untuk mengakhiri obrolannya. Akhirnya Liszt berhenti di tengah permainannya, dan menundukkan kepalanya.

Karena hening, Nicholas lantas mengirim salah satu ajudannya untuk mencari tahu mengapa pianis itu tidak lagi bermain.

“Musik sendiri pun harus diam ketika Nicholas berbicara,” jawab Liszt.

Setelah itu, Liszt dapat menyelesaikan resitalnya dengan perhatian penuh dari Tsar. (BP)

http://intisari-online.com/read/pelajaran-dalam-diplomasi-

Minggu, 14 Oktober 2012

Belajar Bahasa, Otak Berkembang

Di Swedish Armed Forces Interpreter Academy, di kota Uppsala, Swedia, para pemuda yang pada awalnya tidak mampu berkomunikasi dengan beberapa bahasa seperti Arab, Rusia atau Dari (Persia), dalam waktu 13 bulan dapat menggunakan bahasa-bahasa tersebut secara lancar. Maklum, mereka harus belajar dengan keras dari pagi hingga sore, hari kerja maupun akhir pekan.

Sebagai control group (kelompok kontrol), para peneliti menggunakan para mahasiswa ilmu kesehatan dari Umeå University, juga di Swedia. Mereka dipilih karena dianggap sama-sama belajar dengan keras, seperti kelompok pertama, namun bukan dalam bidang bahasa. Selanjutnya kedua kelompok ini melakukan pemindaian MRI, sebelum dan sesudah periode belajar yang sangat intensif tadi.

Hasilnya menunjukkan bahwa ketika kelompok kontrol tidak mengalami perubahan dalam struktur otaknya, bagian tertentu dari otak mahasiswa yang belajar bahasa justru berkembang. Bagian yang mengalami perkembangan tersebut adalah hipokampus dan tiga bagian di wilayah korteks serebral.

Temuan lain adalah, “Bagian yang berbeda dari otak mengalami tingkat perkembangan yang berbeda tergantung pada seberapa baik performa mahasiswa tersebut dalam berbahasa serta seberapa besar usaha yang dikeluarkan saat menjalani kursus,” ujar Johan Mårtensson, seorang peneliti dari Lund University, Swedia.

Mahasiswa yang mengalami perkembangan lebih besar dalam hipokampus dan beberapa bagian dari wilayah korteks serebral berkorelasi dengan kemampuan bahasa yang lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa yang lain. Pada mahasiswa yang melakukan usaha lebih besar dalam belajar, pertumbuhan lebih besar terlihat pada wilayah motorik dari korteks serebral (middle frontal gyrus).

“Bahkan jika kita tidak dapat membandingkan dampak dari kursus bahasa intensif dengan kemampuan bahasa untuk seumur hidup, kita harus tetap percaya bahwa belajar bahasa adalah cara yang tepat untuk menjaga otak tetap tajam,” ujar Johan Mårtensson. (ScienceDaily)

http://intisari-online.com/read/belajar-bahasa-otak-berkembang